Saturday, January 20, 2018

R A I N

                         
via : @jogjahumas 

Aku selalu suka, entah. Walaupun aku membutuhkan berlapis lapis sweeter agar tidak kedinginan, membutuhkan beberapa gelas cokelat panas hanya untuk sekedar menghangatkan badan, tapi aku tetap suka. 

Suaranya yang gemercik, membuat melodi sendiri yang menenangkan bagi penikmatnya. Bentuknya pun unik, sehingga memanjakan setiap mata untuk berlama-lama menikmatinya. Ketika pertama jatuh, bau semerbak tanah akan langsung menusuk hidung sehingga selalu membuatku berkali-kali menghirup udara.

Hujan layaknya manusia, ada yang menyukai sehingga terus menikmati, namun ada pula yang membenci sehingga mencerca dan memaki tanpa henti. Hujan itu anugerah dariNya yang harus kita nikmati, jangan dimaki. Ketika dia lama tidak menyapa, barulah kalian berdo'a agar esok saat kalian terbangun dia telah ada di depan mata. Begitulah manusia, diberi tak disyukuri tak diberi baru memohon tanpa henti.

Banyak orang yang langkahnya terhenti karena hadirnya hujan yang baginya menghalangi. Takut basah, takut kedinginan dan ketakutan lain yang membayangi. Sehingga rela bolos kerja, sekolah atau kuliah, bahkan membatalkan janji. 

Aku masih ingat tulisan seorang aktivis kampus yang sangat menginspirasiku. Beliau membuat tulisan ini beberapa bulan lalu ketika hujan terus memgguyur kota Jogja seperti hari ini. "Hujan itu membasahi, bukan membatasi" begitu tulisnya. Bahkan dalam keadaan hujan, beliau tidak mau hanya mengurung diri di kamar, beliau tetap berkegiatan di luar, tidak peduli seberapa deras dan seberapa kencang angin menerjang. Yang penting bermanfaat, mungkin begitu yang ada dalam benaknya.

Bagiku, tulisannya itu membuat perang dingin diantara tubuh dan hatiku. Aku memang menyukai hujan, tapi selama ini kala hujan datang, aku hanya bisa memandang saja tanpa melakukan apa-apa. Seperti kebanyakan orang, menunggu hingga reda. Hati ingin pergi, tapi tubuh seperti menghalangi.

11.26 bahkan masih mengguyur

No comments:

Post a Comment